METODE PENDIDIKAN
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas Kelompok
Mata Kuliah : Tafsir Tarbawi
Dosen Pembimbing : Moh. Dzofir, MAg

Disusun oleh :
1. Muhamad Fathur
Rozaq 111603
2. Sholikul
Fais
111606
3. Muhliyanto
111599
4. Rayyani
Naim 111598
5. Winda
Fitriastuti 111627
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN TARBIYAH/PAI
TAHUN 2013
A.
Pendahuluan
Dalam
penegrtian litterlijk, kata ”metode” berasal dari bahasa Greek
yang terdidiri dari “meta” yang berarti “melalui”, dan “hodos” yang berarti
“jalan”. Jadi metode berarti “jalan yang dilalui”. Dalam bahasa Arab, metode
dikenal dengan istilah thariqah yang berarti langkah-langkah
strategis dipersiapkan untuk melakukan suatu pekerjaan.
Metode
dalam pendidikan Islam, mencerminkan kandungan pesan-pesan dan bersumber dari
wahyu (al-Qur’an) dalam membentuk peradaban yang seimbang antara orientasi dunia
dan akhirat, orientasi keamalan dan ke-Tuhanan, akal dan wahyu, dan sebagainya.
Seperti
yang ada di dalam al-Qur’an banyak menjelaskan tentang metode pendidikan Islam,
misalnya: Surat Al-Ma’idah ayat 67, Surat Al-A’raaf ayat 176-177, Surat
Ibrahim ayat 24-25, Surat An-Nahl ayat 125.
B.
Ayat
yang terkait dan Terjemahannya
ادْعُ
إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ
الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ
رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
﴿١٢٥﴾
Artinya : Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu
dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang
baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang
tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang
mendapat petunjuk (Q.S. Al-Nahl : 125)
يَا
أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ وَإِن لَّمْ
تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ
اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ ﴿٦٧﴾
Artinya : Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan
jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak
menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.
Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.(Q.S.
Al Ma’ida : 67)
أَلَمْ
تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرةٍ طَيِّبَةٍ
أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاء ﴿٢٤﴾ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ
بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللّهُ الأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ
يَتَذَكَّرُونَ ﴿٢٥﴾
Artinya : Tidakkah kamu perhatikan
bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang
baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, Pohon itu memberikan
buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat
perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (Q.S.
Ibrahim : 24-25)
وَلَوْ
شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَـكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأَرْضِ وَاتَّبَعَ
هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ
تَتْرُكْهُ يَلْهَث ذَّلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا
فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ ﴿١٧٦﴾ سَاء مَثَلاً الْقَوْمُ
الَّذِينَ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا وَأَنفُسَهُمْ كَانُواْ يَظْلِمُونَ ﴿١٧٧﴾
Artinya : Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya
Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada
dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti
anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya
dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang
mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu
agar mereka berfikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan
ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim (Q. S. Al A’raf
: 176-177)
C.
Mufradrat
|
ادع
|
:
Serulah, wahai olehmu Muhammad,
|
|
الى
سَبِيلِ رَبّكَ
|
: Agama
|
|
بالحكمة
|
:
Al-qur’an, Dengan wahyu Allah yang telah diturunkan kepadamu
(Muhammad), hujjah yang qath‘i yang
menghasilkan akidah yang meyakinkan, Kebijaksanaan
|
|
الموعظة
الحسنة
|
|
|
وجادلهم
بالتى
|
: Debat
yang terbaik,
|
بَلِّغْ sampaikanlah
مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ apa yang di turunkan kepadamu
وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ Dan jika tidak kamu kerjakan
(apa yang diperintahkan itu)
فَمَا بَلَّغْتَ kamu tidak menyampaikan
لَا يَهْدِي tidak memberi petunjuk
الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ kepada orang-orang yang kafir
D.
Penjelasan
Pada awalnya Surat
An-Nahl ayat 125 ini berkaitan dengan dakwah Rasulullah SAW. Kalimat
yang digunakan adalah fiil amr “ud’u” (asal kata dari da’a-yad’u-da’watan) yang
artinya mengajak, menyeru, memanggil. Dalam kajian ilmu dakwah maka ada
prinsip-prinsip dalam menggunakan metode dakwah yang meliputi hikmah, maudhoh
hasanah, mujadalah. Metode ini menyebar menjadi prinsip dari berbagai system,
berbagai metode termasuk komunikasi juga pendidikan. Seluruh dakwah, komunikasi
dan pendidikan biasanya merujuk dan bersumber pada ayat ini sebagai prinsip
dasar sehingga terkenal menjadi sebuah “metode”[1].
1.
Berdakwah
dengan Hikmah.
Dalam
tafsir Ibnu Katsir, Imam Ibnu Jarir menyebutkan bahwa maksud dari kata hikmah
adalah wahyu yang telah diturunkan oleh Allah berupa Al-Qur’an dan as-Sunnah.
Selain pengartian kata hikmah denga kedua wahyu tersebut, M. Abduh berpendapat
bahwa hikmah adalah mengetahui rahasia dan faedah dalam tiap – tiap hal. Hikmah
juga diartikan dengan ucapan yang sedikit lafadz akan tetapi memiliki banyak
makna atau dapat diartikan meletakkan sesuatu sesuai tempat yang semestinya.
Orang yang memiliki hikmah disebut al-hakim yaitu orang yang memiliki
pengetahuan yang paling utama dari segala sesuatu. Selain itu Al-Zamaksyari
mengartikan kata al-hikmah dalam al-Kasyaf dengan sesuatu yang pasti benar.
Al-Hikmah adalah dalil yang menghilangkan keraguan ataupun kesamaran.
Selanjutnya beliau menyebutkan bahwa al-hikmah juga diartikan sebagai al-Qur’an
yakni ajaklah manusia mengikuti kitab yang memuat al-hikmah[2].
Dari
pengertian di atas dapat difahami bahwa al-hikmah adalah kemampuan da’idalam
memilih dan menyelaraskan teknik dakwah dengan kondisi obyektif mad’u.
selain itu al-hikmah juga merupakan kemampuan da’i dalam
menjelaskan doktrin- doktrin Islam serta realitas yang ada dengan argumentasi
yang logis dan bahasa yang komunikatif. Oleh karena itu, al-hikmahadalah
sebuah system yang menyatukan antara kemampuan teoritis dan praktis dalam
dakwah.
2.
Berdakwah
dengan al-Mau’idzah al-hasana ( pelajaran yang baik )
Dalam
tafsir Al-Baghawi dijelaskan bahwa berdakwah dengan al-mau’idzah
al-hasanahadalah mengajak manusia dengan memberikan motivasi dan juga
penakutan atas perbuatan buruk yang dilakuakan. Selain itu diartikan pula bahwa
maksud dari al-mau’idzah al-hasanah adalah ucapan yang lembut
yang tidak mengandung kekerasan[3].
Dalam
kitab zad al-Masir fi ‘ilmi al-Tafsir milik Jamal al-Din ‘Abdu al-Rahman
al-Jauzi disebutkan bahwa makna dari al-mau’idzah al-hasanah ada dua yang
pertama adalah pelajaran dari Al-Qur’an berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas dan
yang kedua adalah adab yang baik yang telah ma’ruf.
Sedangkan
dalam tafsir al-Manaar diartikan bahwa al-Mau’idzah adalah bentuk isim dari
lafadz wa’adza yang artinya wasiat kepada kebenaran dan kebaikan juga wasiat
untuk menjauhkan diri dari kebatilan dan keburukan dengan jalan memberikan
motivasi dan penakut-nakutan dimana dengan hal itu akan msampai ke hati yang
diberi wasiat yang akan menjadikan orang tersebut mengerjakan kebaikan dan
meninggalkan keburukan.
Dari
pengertian di atas maka al-mau’idzah al-hasanah mengandung beberapa hal berikut
:
a. Nasihat
ataupun petuah
b. Bimbingan
dan pengajaran
c. Kisah
– kisah
d. Kabar
gembira dan peringatan
e. Wasiat
( pesan – pesan positif )
Dari
kandungan – kandungan di atas maka al-mau’idzah al-hasanah akan mengandung arti
kata – kata yang masuk ke dalam hati dengan penuh kasih saying dan ke dalam
perasaan dengan penuh kelembutan di mana hal itu lebih dapat memberikan dampak
pada orang yang didakwahi.
3.
Berdakwah
dengan melakukan bantahan dengan cara yang baik.
Dalam
pengerian bahasa kata mujadalah diambil dari kata jadala yang berarti memintal,
ataupun melilit. Kemudian kata tersebut diikutkan pasda wazan faa’ala menjadi
kata jaadala yang berarti berdebat atau berbantahan dengan. Secara istilah kata
mujaadalah memiliki beberapa pengertian, diantaranya adalah sebagai berikut :
a. Menurut
Sayyid Muhammad Thanthawi mujadalah berarti upaya untuk mengalahkan
pendapat lawan dengan memberikan argumentasi dan bukti yang kuat.
b. Menurut
tafsir Al-Nasafi kata tersebut berarti berbantahan dengan jalan sebaik –
baiknya antara lain denga perkataan yang lunak, lemah lembut, tidak dengan
perkataan yang kasar atau dengan mempergunakan suatu perkataan yang bisa
menyadarkan hati, membangunkan jiwa dan menerangi akal pikiran.
Dalam Q.S. Al Ma’ida :
67 dijelaskan bahwa Nabi Muhammad
adalah teladan di dalam alam nyata. Mereka memperhatikan beliau, sedangkan
beliau adalah manusia seperti mereka lalu melihat bahwa sifat-sifat dan
daya-daya itu menampakan diri di dalam diri beliau. Mereka menyaksikan hal itu
secara nyata di dalam diri seorang manusia. Oleh karena itu hati mereka
tergerak dan perasaan mereka tersentuh. Mereka ingin mencontoh rasul,
masing-masing sesuai dengan kemampuannya dan sesuai dengan kesanggupannya
meningkat lebih tinggi. Semangat mereka tidak mengendur, perhatian mereka tidak
dipalingkan, serta tidak membiarkannya menjadi impian kosong yang terlalu
muluk, karena mereka melihatnya dengan nyata hidup di alam nyata, dan
menyaksikan sendiri kepribadian itu secara konkrit bukan omong kosong di alam
khayal.
Oleh
karena itu rasululloh s.a.w merupakan teladan terbesar buat umat manusia,
beliau adalah seorang pendidik seorang yang memberi petunjuk kepada manusia
dengan tingkah lakunya sendiri terlebih dahulu sebelum dengan kata-kata yang
baik, dalam hal ini al-quran dan hadits menyebutkannya. Melalui beliau allah
membina manusia yang dikatakan allah s.w.t :
كنتم
خير امة اخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر وتؤمنون بالله
Artinya :
“Kami adalah umat terbaik yang dipersembahkan buat manusia, mengajak manusia
berbuat baik dan mencegah mereka berbuat tidak baik serta beriman kepada Allah”
(QS Al-Imran : 110)
Teladan
itu akan tetap lestari selama langit dan bumi ini lestari, kepribadian
Rosululloh s.a.w sesungguhnya bukanlah hanya teladan buat suatu masa, satu
generasi satu bangsa, satu golongan atau satu lingkungan tertentu. Ia merupakan
teladan universal buat seluruh manusia dan seluruh generasi. Beliau diutus buat
seluruh makhluk dan seluruh manusia kapan pun ia lahir, buat seluruh generasi
dan buat seluruh tempat. Teladan yang abadi, yang tidak akan habis-habis
berkurang atau rusak.
Pantaslah
orang-orang yang bertemu dengan Rosululloh dan melihat langsung pribadinya yang
mulia itu, telah mengisi penuh roh, hati, otak, peraaan, dan tubuh mereka. Dan
melihat pribadinya yang mulia itu sungguh merupakan terjemahan konkrit dari
Al-Qur’an. Oleh karena itu mereka mengimani agama yang secara nyata mereka
lihat terwujud secara konkrit itu.
Semuanya
itu sudah merupakan ketetapan Allah, dan ketetapannya itu sudah terealisasi
dengan diturunkanya Al-Qur’an. Islam berpendapat, sebagaimana telah kita
singgung didalam permulaan pasal ini, bahwa suri tauladan adalah tehnik
pendidikan yang paling baik, dan seorang anak harus memperoleh teladan dari
keluarga dan orang tuanya agar ia semenjak kecil sudah menerima norma-norma
Islam dan berjalan berdasarkan konsepsi yang tinggi itu.
Dengan
demikian Islam mendasarkan metodologi pendidikannya kepada sesuatu yang akan
mengendalikan jalan kehidupan dalam masyarakat. Maka bila suatu masyarakat
Islam terbentuk, masyarakat itu akan mengisi anak-anaknya dengan norma-norma
Islam melalui suri tauladan yang diterapkan dalam masyarakat dan terlaksana
didalam keluarga dan oleh orang tua.
Garis
besar yang dapat ditarik dari penjelasan Q.S. Ibrahim ayat 24-25, dalam ruang
lingkup pendidikan menggunakan 2 metode[4],
yaitu:
a. Metode
perumpamaan
Dalam
dunia pendidikan, membuat perumpamaan akan membantu memahamkan dan mengingatkan
peserta didik terhadap makna perkataan, karena hati lebih mudah di lunakkan
dengan perumpamaan-perumpamaan. Dengan perumpamaan, sesuatu yang rasional bisa
disesuaikan dengan sesuatu yang indrawi. Maka, tercapailah pengetahuan yang
sempurna tentang sesuatu yang diumpamakan.
b. Metode
kontemplasi
Dalam ayat
ini memberikan gambaran kepada kita untuk merenungi dan mentafakuri ciptaan
Allah SWT agar dapat diambil hikmah dan pelajarannya. Dengan metode
kontemplasi, pendidik dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari kandungan ayat
- ayat Allah yang memiliki kandungan-kandungan makna yang tersirat, sehingga
dapat menyampaikannya kepada peserta didik.
Metode pendidikan yang baik dalam kegiatan belajar mengajar
harus:
a. Menggunakan
perumpamaan yang baik-baik saja agar mendapatkan contoh yang baik sehingga
peserta didik dapat menirunya.
b. Menggunakan
kata-kata yang baik dan benar agar peserta didik mampu menyerap manfaat
darinya.
c. tidak
diperbolehkan menggunakan kata-kata buruk yang dapat mempengaruhi perilaku
siswa.
d. senantiasa
menggunakan Al-Qur’an dan Hadits sebagai acuan dalam kegiatan belajar mengajar.
Dalam Q.S. Al - A’raf : 176 – 177 dijelaskan bahwa kehendak Allah itu mengikuti amal kita.
Dalam penciptaan, kita diberi kemampuan (potensi) untuk berikhtiar (berusaha
dan memilih). Dengan potensi ikhtiar kita bisa berbuat sesuatu amal yang
berpahala atau yang mengandung dosa. Jika seseorang memilih kebajikan, Allah
memberi jalan-jalan yang memudahkannya, demikian pula sebaliknya, bagi mereka
yang memilih kejahatan (kemaksiatan) juga diberi jalan untuk itu[5].
Dalam ayat
ini diterangkan bahwa bagi orang yang mengamalkan ayat-ayat Allah akan di
tinggikan derajatnya, dan bagi orang yang tidak mengamalkan
ayat-ayat Allah karena cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa narfsunya,
maka Allah tidak akan memberikan hidayah baginya. Orang yang seperti itu
diumpamakan seperti seekor anjing apabila dihalau ia mengululurkan lidahnya dan
apablia dibiarkan ia mengulurkan lidahnya pula. Begitu hinanya orang yang tidak
mengamalkan ayat-ayat Allah sehingga Allah akan memberikan peringatan kepada
orang yang demikian itu.
Garis
besar yang dapat ditarik dari penjelasan Q.S. Al – A’raf ayat 176 - 177, dalam
ruang lingkup pendidikan menggunakan metode cerita. Islam menyadari sifat
alamiah manusia untuk menyenangi cerita itu, dan menyadari pengaruhnya yang
besar terhadap perasaan. Oleh karena itu Islam mengeksploitasi cerita itu untuk
dijadikan salah satu teknik pendidikan. Al-Qur’an mempergunakan cerita sebagai
alat pendidikan, seperti: cerita tentang Nabi atau Rasul terdahulu, cerita kaum
yang hidup terdahulu baik yang ingkar kepada Allah atau pun yang beriman
kepada-Nya[6].
Bahwa dalam pelaksanaan pendidikan Islam dibutuhkan adanya
metode yang tepat, guna menghantar tercapainya tujuan pendidikan yang
dicita-citakan, sebab tidak mungkin materi pendidikan dapat diterima dengan
baik kecuali disampaikan dengan metode yang tepat. Metode diibaratkan sebagai
alat yang dapat digunakan dalam suatu proses pencapaian tujuan, tanpa metode,
suatu materi tidak akan dapat berproses secara efisien dan efektif dalam
kegiatan belajar mengajar menuju tujuan pendidikan.
Dalam mengajarkan peserta didik kita sebagai seorang calon
pendidik harus mengetahui apa-apa saja metode pendidikan itu, agar pendidikan
itu sesuai dengan al-Qur’an As-Sunnah. Dan membuat peserta didik mengerti apa
yang disampaikan oleh pendidik (guru). Sehingga anak didik mencapai suatu
tujuan pendidikan.
Dan selesaikan permasalahan itu dengan musyawarah, karena
pada masa Rasulullah bermusyawarah itu merupakan cara untuk menyelesaikan
masalah dengan menggunakan hukum Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Sebab itu wajiblah guru atau pendidik agama mengetahui
bermacam-macam ilmu pengetahuan yang diketahui oleh masyarakat umat yang
diserunya, supaya dapat dipersesuaikannya dengan ajaran agama, sehingga dapat
diterima oleh akal mereka yang telah terdidik dengan ilmu pengetahuan itu.
Kalau tidak, niscaya mereka tolak ajaran agama, karena bertentangan dengan ilmu
pengetahuannya.
[1]
Abudin Nata, Tafsir Ayat-ayat Pendidikan,
(Jakarta: PT RajaGrafindo, 2002)
[2]
ibid
[3]
Mahmud Yunus, Tafsir Quran Karim (Bahasa Indonesia)
[4]
Ahmad Muastafa Al-Maragi, Terj. Tafsir Al-Maragi,
(Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1994)
[5]
Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, Kemudahan dari Allah:
Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 2, (Jakarta: Gema Insani Press, 1999)
[6]
Majd, i bin Manshur
bin Syyid Asy-Syuri, Tafsir Imam Syafi’i, (Jakarta: Pustaka Azzam,
2003)






0 komentar:
Posting Komentar