Sabtu, 08 Juni 2013

METODE PENDIDIKAN TAFSIR TARBAWI







METODE PENDIDIKAN

MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas Kelompok
Mata Kuliah  : Tafsir Tarbawi
Dosen Pembimbing : Moh. Dzofir, MAg









                                    




Disusun oleh :
1.      Muhamad Fathur Rozaq        111603
2.     Sholikul Fais                          111606
3.      Muhliyanto                            111599
4.      Rayyani Naim                       111598
5.      Winda Fitriastuti                   111627        


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN TARBIYAH/PAI
TAHUN 2013




A.      Pendahuluan
Dalam penegrtian litterlijk, kata ”metode” berasal dari bahasa Greek yang terdidiri dari “meta” yang berarti “melalui”, dan “hodos” yang berarti “jalan”. Jadi metode berarti “jalan yang dilalui”. Dalam bahasa Arab, metode dikenal dengan istilah thariqah yang berarti langkah-langkah strategis dipersiapkan untuk melakukan suatu pekerjaan.
Metode dalam pendidikan Islam, mencerminkan kandungan pesan-pesan dan bersumber dari wahyu (al-Qur’an) dalam membentuk peradaban yang seimbang antara orientasi dunia dan akhirat, orientasi keamalan dan ke-Tuhanan, akal dan wahyu, dan sebagainya.
Seperti yang ada di dalam al-Qur’an banyak menjelaskan tentang metode pendidikan Islam, misalnya: Surat Al-Ma’idah ayat 67, Surat Al-A’raaf ayat 176-177, Surat Ibrahim ayat 24-25, Surat An-Nahl ayat 125.

B.       Ayat yang terkait dan Terjemahannya

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ ﴿١٢٥﴾
Artinya : Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (Q.S. Al-Nahl : 125)

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ ﴿٦٧﴾
Artinya : Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.(Q.S. Al Ma’ida : 67)

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاء ﴿٢٤﴾ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللّهُ الأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ ﴿٢٥﴾
Artinya : Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (Q.S. Ibrahim : 24-25)

وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَـكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث ذَّلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ ﴿١٧٦﴾ سَاء مَثَلاً الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا وَأَنفُسَهُمْ كَانُواْ يَظْلِمُونَ ﴿١٧٧﴾
Artinya : Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim (Q. S. Al A’raf  : 176-177)

C.      Mufradrat
ادع
: Serulah, wahai olehmu Muhammad,
الى سَبِيلِ رَبّكَ
: Agama
بالحكمة
: Al-qur’an, Dengan wahyu Allah yang telah diturunkan kepadamu (Muhammad), hujjah yang qath‘i yang menghasilkan akidah yang meyakinkan, Kebijaksanaan
الموعظة الحسنة
: Nasihat yang baik atau perkataan yang halus, Peringatan atau pelajaran yang indah, tanda-tanda yang bersifat zhanni (al-amârât azh-zhanniyah) dan dalil-dalil yang memuaskan, Pendidikan yang baik
وجادلهم بالتى
: Debat yang terbaik,
بَلِّغْ                           sampaikanlah
مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ                apa yang di turunkan kepadamu
وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ                 Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu)
فَمَا بَلَّغْتَ                    kamu tidak menyampaikan
لَا يَهْدِي                     tidak memberi petunjuk
الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ              kepada orang-orang yang kafir

D.      Penjelasan
Pada awalnya Surat An-Nahl ayat 125 ini berkaitan dengan dakwah Rasulullah SAW. Kalimat yang digunakan adalah fiil amr “ud’u” (asal kata dari da’a-yad’u-da’watan) yang artinya mengajak, menyeru, memanggil. Dalam kajian ilmu dakwah maka ada prinsip-prinsip dalam menggunakan metode dakwah yang meliputi hikmah, maudhoh hasanah, mujadalah. Metode ini menyebar menjadi prinsip dari berbagai system, berbagai metode termasuk komunikasi juga pendidikan. Seluruh dakwah, komunikasi dan pendidikan biasanya merujuk dan bersumber pada ayat ini sebagai prinsip dasar sehingga terkenal menjadi sebuah “metode”[1].
1.         Berdakwah dengan Hikmah.
Dalam tafsir Ibnu Katsir, Imam Ibnu Jarir menyebutkan bahwa maksud dari kata hikmah adalah wahyu yang telah diturunkan oleh Allah berupa Al-Qur’an dan as-Sunnah. Selain pengartian kata hikmah denga kedua wahyu tersebut, M. Abduh berpendapat bahwa hikmah adalah mengetahui rahasia dan faedah dalam tiap – tiap hal. Hikmah juga diartikan dengan ucapan yang sedikit lafadz akan tetapi memiliki banyak makna atau dapat diartikan meletakkan sesuatu sesuai tempat yang semestinya. Orang yang memiliki hikmah disebut al-hakim yaitu orang yang memiliki pengetahuan yang paling utama dari segala sesuatu. Selain itu Al-Zamaksyari mengartikan kata al-hikmah dalam al-Kasyaf dengan sesuatu yang pasti benar. Al-Hikmah adalah dalil yang menghilangkan keraguan ataupun kesamaran. Selanjutnya beliau menyebutkan bahwa al-hikmah juga diartikan sebagai al-Qur’an yakni ajaklah manusia mengikuti kitab yang memuat al-hikmah[2].
Dari pengertian di atas dapat difahami bahwa al-hikmah adalah kemampuan da’idalam memilih dan menyelaraskan teknik dakwah dengan kondisi obyektif mad’u. selain itu al-hikmah juga merupakan kemampuan da’i dalam menjelaskan doktrin- doktrin Islam serta realitas yang ada dengan argumentasi yang logis dan bahasa yang komunikatif. Oleh karena itu, al-hikmahadalah sebuah system yang menyatukan antara kemampuan teoritis dan praktis dalam dakwah.
2.         Berdakwah dengan al-Mau’idzah al-hasana ( pelajaran yang baik )
Dalam tafsir Al-Baghawi dijelaskan bahwa  berdakwah dengan al-mau’idzah al-hasanahadalah mengajak manusia dengan memberikan motivasi dan juga penakutan atas perbuatan buruk yang dilakuakan. Selain itu diartikan pula bahwa maksud dari al-mau’idzah al-hasanah adalah ucapan yang lembut yang tidak mengandung kekerasan[3].
Dalam kitab zad al-Masir fi ‘ilmi al-Tafsir milik Jamal al-Din ‘Abdu al-Rahman al-Jauzi disebutkan bahwa makna dari al-mau’idzah al-hasanah ada dua yang pertama adalah pelajaran dari Al-Qur’an berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas dan yang kedua adalah adab yang baik yang telah ma’ruf.
Sedangkan dalam tafsir al-Manaar diartikan bahwa al-Mau’idzah adalah bentuk isim dari lafadz wa’adza yang artinya wasiat kepada kebenaran dan kebaikan juga wasiat untuk menjauhkan diri dari kebatilan dan keburukan dengan jalan memberikan motivasi dan penakut-nakutan dimana dengan hal itu akan msampai ke hati yang diberi wasiat yang akan menjadikan orang tersebut mengerjakan kebaikan dan meninggalkan keburukan.
Dari pengertian di atas maka al-mau’idzah al-hasanah mengandung beberapa hal berikut :
a.    Nasihat ataupun petuah
b.    Bimbingan dan pengajaran
c.    Kisah – kisah
d.   Kabar gembira dan peringatan
e.    Wasiat ( pesan – pesan positif )
Dari kandungan – kandungan di atas maka al-mau’idzah al-hasanah akan mengandung arti kata – kata yang masuk ke dalam hati dengan penuh kasih saying dan ke dalam perasaan dengan penuh kelembutan di mana hal itu lebih dapat memberikan dampak pada orang yang didakwahi.
3.         Berdakwah dengan melakukan bantahan dengan cara yang baik.
Dalam pengerian bahasa kata mujadalah diambil dari kata jadala yang berarti memintal, ataupun melilit. Kemudian kata tersebut diikutkan pasda wazan faa’ala menjadi kata jaadala yang berarti berdebat atau berbantahan dengan. Secara istilah kata mujaadalah memiliki beberapa pengertian, diantaranya adalah sebagai berikut :
a.       Menurut Sayyid Muhammad Thanthawi mujadalah berarti upaya untuk mengalahkan pendapat  lawan dengan memberikan argumentasi dan bukti yang kuat.
b.      Menurut tafsir Al-Nasafi kata tersebut berarti berbantahan dengan jalan sebaik – baiknya antara lain denga perkataan yang lunak, lemah lembut, tidak dengan perkataan yang kasar atau dengan mempergunakan suatu perkataan yang bisa menyadarkan hati, membangunkan jiwa dan menerangi akal pikiran.

Dalam Q.S. Al Ma’ida : 67 dijelaskan bahwa Nabi Muhammad adalah teladan di dalam alam nyata. Mereka memperhatikan beliau, sedangkan beliau adalah manusia seperti mereka lalu melihat bahwa sifat-sifat dan daya-daya itu menampakan diri di dalam diri beliau. Mereka menyaksikan hal itu secara nyata di dalam diri seorang manusia. Oleh karena itu hati mereka tergerak dan perasaan mereka tersentuh. Mereka ingin mencontoh rasul, masing-masing sesuai dengan kemampuannya dan sesuai dengan kesanggupannya meningkat lebih tinggi. Semangat mereka tidak mengendur, perhatian mereka tidak dipalingkan, serta tidak membiarkannya menjadi impian kosong yang terlalu muluk, karena mereka melihatnya dengan nyata hidup di alam nyata, dan menyaksikan sendiri kepribadian itu secara konkrit bukan omong kosong di alam khayal.
Oleh karena itu rasululloh s.a.w merupakan teladan terbesar buat umat manusia, beliau adalah seorang pendidik seorang yang memberi petunjuk kepada manusia dengan tingkah lakunya sendiri terlebih dahulu sebelum dengan kata-kata yang baik, dalam hal ini al-quran dan hadits menyebutkannya. Melalui beliau allah membina manusia yang dikatakan allah s.w.t :
كنتم خير امة اخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر وتؤمنون بالله
Artinya : “Kami adalah umat terbaik yang dipersembahkan buat manusia, mengajak manusia berbuat baik dan mencegah mereka berbuat tidak baik serta beriman kepada Allah” (QS Al-Imran : 110)
Teladan itu akan tetap lestari selama langit dan bumi ini lestari, kepribadian Rosululloh s.a.w sesungguhnya bukanlah hanya teladan buat suatu masa, satu generasi satu bangsa, satu golongan atau satu lingkungan tertentu. Ia merupakan teladan universal buat seluruh manusia dan seluruh generasi. Beliau diutus buat seluruh makhluk dan seluruh manusia kapan pun ia lahir, buat seluruh generasi dan buat seluruh tempat. Teladan yang abadi, yang tidak akan habis-habis berkurang atau rusak.
Pantaslah orang-orang yang bertemu dengan Rosululloh dan melihat langsung pribadinya yang mulia itu, telah mengisi penuh roh, hati, otak, peraaan, dan tubuh mereka. Dan melihat pribadinya yang mulia itu sungguh merupakan terjemahan konkrit dari Al-Qur’an. Oleh karena itu mereka mengimani agama yang secara nyata mereka lihat terwujud secara konkrit itu.
Semuanya itu sudah merupakan ketetapan Allah, dan ketetapannya itu sudah terealisasi dengan diturunkanya Al-Qur’an. Islam berpendapat, sebagaimana telah kita singgung didalam permulaan pasal ini, bahwa suri tauladan adalah tehnik pendidikan yang paling baik, dan seorang anak harus memperoleh teladan dari keluarga dan orang tuanya agar ia semenjak kecil sudah menerima norma-norma Islam dan berjalan berdasarkan konsepsi yang tinggi itu.
Dengan demikian Islam mendasarkan metodologi pendidikannya kepada sesuatu yang akan mengendalikan jalan kehidupan dalam masyarakat. Maka bila suatu masyarakat Islam terbentuk, masyarakat itu akan mengisi anak-anaknya dengan norma-norma Islam melalui suri tauladan yang diterapkan dalam masyarakat dan terlaksana didalam keluarga dan oleh orang tua.
Garis besar yang dapat ditarik dari penjelasan Q.S. Ibrahim ayat 24-25, dalam ruang lingkup pendidikan menggunakan 2 metode[4], yaitu:
a.    Metode perumpamaan
Dalam dunia pendidikan, membuat perumpamaan akan membantu memahamkan dan mengingatkan peserta didik terhadap makna perkataan, karena hati lebih mudah di lunakkan dengan perumpamaan-perumpamaan. Dengan perumpamaan, sesuatu yang rasional bisa disesuaikan dengan sesuatu yang indrawi. Maka, tercapailah pengetahuan yang sempurna tentang sesuatu yang diumpamakan.
b.    Metode kontemplasi
Dalam ayat ini memberikan gambaran kepada kita untuk merenungi dan mentafakuri ciptaan Allah SWT agar dapat diambil hikmah dan pelajarannya. Dengan metode kontemplasi, pendidik dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari kandungan ayat - ayat Allah yang memiliki kandungan-kandungan makna yang tersirat, sehingga dapat menyampaikannya kepada peserta didik.
Metode pendidikan yang baik dalam kegiatan belajar mengajar harus:
a.    Menggunakan perumpamaan yang baik-baik saja agar mendapatkan contoh yang baik sehingga peserta didik dapat menirunya.
b.    Menggunakan kata-kata yang baik dan benar agar peserta didik mampu menyerap manfaat darinya.
c.    tidak diperbolehkan menggunakan kata-kata buruk yang dapat mempengaruhi perilaku siswa.
d.   senantiasa menggunakan Al-Qur’an dan Hadits sebagai acuan dalam kegiatan belajar mengajar.

Dalam Q.S. Al - A’raf : 176 – 177 dijelaskan bahwa kehendak Allah itu mengikuti amal kita. Dalam penciptaan, kita diberi kemampuan (potensi) untuk berikhtiar (berusaha dan memilih). Dengan potensi ikhtiar kita bisa berbuat sesuatu amal yang berpahala atau yang mengandung dosa. Jika seseorang memilih kebajikan, Allah memberi jalan-jalan yang memudahkannya, demikian pula sebaliknya, bagi mereka yang memilih kejahatan (kemaksiatan) juga diberi jalan untuk itu[5].
Dalam ayat ini diterangkan bahwa bagi orang yang mengamalkan ayat-ayat Allah akan di tinggikan derajatnya, dan bagi orang  yang tidak mengamalkan ayat-ayat Allah karena cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa narfsunya, maka Allah tidak akan memberikan hidayah baginya. Orang yang seperti itu diumpamakan seperti seekor anjing apabila dihalau ia mengululurkan lidahnya dan apablia dibiarkan ia mengulurkan lidahnya pula. Begitu hinanya orang yang tidak mengamalkan ayat-ayat Allah sehingga Allah akan memberikan peringatan kepada orang yang demikian itu.
Garis besar yang dapat ditarik dari penjelasan Q.S. Al – A’raf ayat 176 - 177, dalam ruang lingkup pendidikan menggunakan metode cerita. Islam menyadari sifat alamiah manusia untuk menyenangi cerita itu, dan menyadari pengaruhnya yang besar terhadap perasaan. Oleh karena itu Islam mengeksploitasi cerita itu untuk dijadikan salah satu teknik pendidikan. Al-Qur’an mempergunakan cerita sebagai alat pendidikan, seperti: cerita tentang Nabi atau Rasul terdahulu, cerita kaum yang hidup terdahulu baik yang ingkar kepada Allah atau pun yang beriman kepada-Nya[6].

E.       Relevansi dengan Metode Pendidikan
Bahwa dalam pelaksanaan pendidikan Islam dibutuhkan adanya metode yang tepat, guna menghantar tercapainya tujuan pendidikan yang dicita-citakan, sebab tidak mungkin materi pendidikan dapat diterima dengan baik kecuali disampaikan dengan metode yang tepat. Metode diibaratkan sebagai alat yang dapat digunakan dalam suatu proses pencapaian tujuan, tanpa metode, suatu materi tidak akan dapat berproses secara efisien dan efektif dalam kegiatan belajar mengajar menuju tujuan pendidikan.
Dalam mengajarkan peserta didik kita sebagai seorang calon pendidik harus mengetahui apa-apa saja metode pendidikan itu, agar pendidikan itu sesuai dengan al-Qur’an As-Sunnah. Dan membuat peserta didik mengerti apa yang disampaikan oleh pendidik (guru). Sehingga anak didik mencapai suatu tujuan pendidikan.
Dan selesaikan permasalahan itu dengan musyawarah, karena pada masa Rasulullah bermusyawarah itu merupakan cara untuk menyelesaikan masalah dengan menggunakan hukum Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Sebab itu wajiblah guru atau pendidik agama mengetahui bermacam-macam ilmu pengetahuan yang diketahui oleh masyarakat umat yang diserunya, supaya dapat dipersesuaikannya dengan ajaran agama, sehingga dapat diterima oleh akal mereka yang telah terdidik dengan ilmu pengetahuan itu. Kalau tidak, niscaya mereka tolak ajaran agama, karena bertentangan dengan ilmu pengetahuannya.




[1] Abudin Nata, Tafsir Ayat-ayat Pendidikan, (Jakarta: PT RajaGrafindo, 2002)
[2] ibid
[3] Mahmud Yunus, Tafsir Quran Karim (Bahasa Indonesia)
[4] Ahmad Muastafa Al-Maragi, Terj. Tafsir Al-Maragi, (Semarang: PT. Karya Toha Putra, 1994)
[5] Muhammad Nasib Ar-Rifa’i, Kemudahan dari Allah: Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 2, (Jakarta: Gema Insani Press, 1999)
[6] Majd,   i bin Manshur bin Syyid Asy-Syuri, Tafsir Imam Syafi’i, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2003)

0 komentar:

Posting Komentar